Hegemoni Media (Televisi)

      Sungguh senangnya berada di zaman sekarang, memperoleh informasi begitu mudah dari media massa. Dari smartphone yang kita gunakan, kita dapat mengakses informasi ter­-update, dapat komunikasi lewat dunia maya. Dari media cetak (koran), kita dapat keakuratan berita beserta iklan-iklan yang dibutuhkan. Juga dari televisi, menyuguhkan konsep audio-visual demi menyajikan informasi berkarakter, agar khalayak merasa terhibur dan terpenuhi kebutuhannya.

      Tidak bisa dipungkiri lagi, media massa di detik ini, detik berikutnya, dan seterusnya akan menjadi komoditi penting bahkan kebutuhan primer untuk dipenuhi. Kita menjadi pengguna media karena isi/konten media yang telah direncakan itu, sukses membuat kita tunduk untuk terus menggunakan media sebagai tanda munculnya era zaman informasi. Tapi, siapa sangka, jikalau isi/konten tersebut merupakan agenda-setting media yang menggangap, isi/konten media adalah hal penting bagi media, dan penting pula bagi khalayak?

      Contohnya saja, iklan Mars Partai Perindo, yang selalu tayang di media MNC group. Penempatan Mars Perindo di jeda iklan sangatlah cerdik. Ketua umum Perindo sekaligus bos besar MNC group, Harry Tanoesoedibjo, menempatkan Mars Perindo beserta tayangan iklan tentang Perindo di jeda iklan di program ber-rating tinggi, di prime time, juga di program acara bertajuk ‘news’. Data dari Adstensity—sebuah platform yang menghitung dan menganalisa data iklan di televisi—mencatatkan, selama kurun waktu tiga bulan terakhir, terhitung dari November 2015 hingga Januari 2016, iklan partai Perindo di MNC Group mencapai 1918 kali. Dan perhitungan Adstensity, nilai iklan yang harus dibayar berkisar Rp 132 miliar (diunggah oleh tirto.id). Bisa dibayangkan, jika bukan dia pemilik MNC group, apakah dia mampu untuk merogoh saku dalam-dalam demi melunasi harga iklan tersebut?

      Lalu, apakah netralitas media sudah bisa dikatakan terbiaskan? Sudah. Malah, para pemikir kritis terdahulu sudah mengklasifikasi tentang media di bawah aliran kritis. Habermas misalnya. Dia menegaskan, media merupakan sebuah realitas di mana ideologi dominan (dalam hal ini kapitalisme) disebarkan kepada khalayak dan membentuk apa yang disebutnya sebagai kesadaran palsu (false consciousness). Kesadaran ini merupakan kesadaran yang terbentuk atas  dasar  kepentingan  kelompok  dominan  sehingga  kepentingan mereka tetap terjaga. Katanya lagi, perkembangan media sudah condong ke arah kapitalis dibanding sebagai institusi sosial.

      Kepentingan kelompok merujuk pada kelompok berbentuk Partai Perindo. Tujuan sederhana Harry Tanoe ialah, mempromosikan, mengenalkan partainya sendiri kepada masyarakat. Hegemoni media di Indonesia tidak hanya terjadi di lingkungan MNC group. Bagi mereka yang sering menonton berita di berbagai channel televisi, mungkin sudah bisa membedakan kubu mana saja di balik media tersebut. Ada Aburizal Bakire (Golkar) dengan Antv dan TvOne. Surya Paloh, ketum Partai Nasdem dengan Metro Tv. Chairul Tanjung dengan Trans Tv dan Trans 7.

      Maka bukan suatu hal yang ganjil, jika televisi-televisi tersebut memberitakan baik-baik tentang Golkar, Nasdem, atau para politikus yang bernaung di kedua partai tersebut. Dan bukan hal yang mengherankan, jika dalam satu kasus, dari kedua televisi tersebut menampilkan berita dengan framing berbeda satu sama lain, karena melindungi kepentingan kelompok-kelompok  agar tetap terjaga.

Advertisements